Minggu, 22 Agustus 2021

Perkembangan Kesusastraan Belanda (Part 30)

 b.     Aliran pada abad ke-18.

       Pada abad ke-18 terdapat dua aliran, yaitu Frans Classicisme dan Verlichting:

1.       Frans Classicisme (1669-1731).

    Setelah tahun 1669, Nederlandse Literatuur mengalami kemunduran. Setelah 5 penulis besar meninggal (P. C. Hooft, G. A. Bredero, J. Van de Vondel dan kawan-kawan) muncul perkumpulan baru yaitu Nil Volentibus Arduum. Tokoh penting dari Nil Volentibus Arduum ini adalah Andries Pels (1631-1681). Di Nil Volentibus Arduum ini mereka membuat drama sendiri dan membuat buku "Penggunaan dan Penyalahgunaan Toneel (gebruik en misgebruik toneel). Disana mereka juga mengkritik atau memprotes tajam terhadap karya dari penulis terdahulu, seperti P. C. Hooft, Jan Vos, Joost van de Vondel. Kritik tersebut muncul karena penulis-penulis terdahulu menggunakan bahasa yang sulit, struktur yang tidak logis dan sulit dimengerti.

        Genre dari Frans Classicisme ini adalah Toneel dan Gedichten. Aliran ini merupakan aliran yang hampir mirip dengan Renaissance, namun yang dihidupkan kembali adalah masa klasik Perancis.

 

2.       Verlichting (1731-1820).

Ada 2 pandangan:

·         Untuk Belanda dianggap sebagai arah kemunduran, terutama di bidang sastra.

·         Untuk negara Eropa secara keseluruhan dianggap sebagai kemajuan karena dianggap banyak ditemukannya penemuan, salah satunya penemuan mesin.

Ø  Verlichting disebut juga sebagai Aufklarung (Bahasa Jerman) dan enlightment (Bahasa Inggris). Pada abad ini gerakan budaya masyarakat lebih diperdalam yang bertujuan untuk mengeksplor pikiran manusia dengan cara percaya pada pengalaman, indera, terutama rasionalisme. Di abad ini muncul beragam pemikiran untuk mengeksplorasi pikiran manusia.

Ø   Verlichting merupakan pandangan terhadap diri sendiri yang artinya pencerahan.

Ø  Di Eropa, suasana Verlichting sangat luar biasa. Amsterdam mulai kehilangan pamornya karena diambil alih oleh Inggris dan Perancis dalam hal ekonomi. Di Belanda orang kaya makin kaya sehingga rakyat tidak lagi diperhatikan. Melihat kondisi masyarakat yang seperti ini, maka muncullah gerakan masyarakat yang bertujuan untuk mengeksplor pikiran manusia.

 

b.     Aliran pemikiran masa Verlichting:

1.       Rasionalisme.

    Menggunakan akal pikiran atau logika sebagai pedoman untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Bapak rasionalisme adalah René Descartes (bapak filsafat modern). Menurutnya, akal budi adalah alat paling luhur untuk mendapatkan kebenaran. Panca indera hanya berfungsi untuk membuktikan kebenaran tersebut. Hal yang dihasilkan atau ditimbulkan oleh rasionalisme adalah cara berpikir manusia yang lebih kritis. Orientasi pikiran rasionalisme berdasarkan logika namun masih mempercayai keberadaan Tuhan.

2.       Empirisme.

      Mendapatkan ilmu pengetahuan melalui pengalaman dan persepsi. Bapak empirisme adalah Francis Bacon. Menurutnya, panca indera merupakan alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan didapat dari apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasa dan apa yang kita raba. Melalui pengalaman itulah kita mendapatkan ilmu pengetahuan.

3.       Kritisisme

    Aliran ini mengkritik paham rasionalisme dan empirisme. Bapak kritisisme adalah Imanuel Kant. Alasan Imanuel Kant mengkritik paham rasionalisme adalah karena hal yang harus ada dalam pemikiran rasionalisme yaitu universal dan apriori. Bersifat universal karena akal budi manusia bersifat universal dan bersifat apriori karena kebenaran yang didapat tidak mesti dialami. Akal budi kita bisa mendapat kebenaran tanpa harus mengalaminya. Sehingga kekurangannya adalah tidak menghasilkan sesuatu yang baru karena hanya menggunakan akal budi yang hanya melakukan perenungan. Disisi lain, jika hanya menggunakan empirisme saja maka juga tidak bisa. Karena empirisme terdapat aposteriori (pengetahuan didapat setelah dialami) dan partikular (yang kita alami hanya bagian kecil). Sehingga ilmu pengetahuan juga kurang berkembang karena kita harus merasakan sesuatu baru mendapat ilmu pengetahuan.

    Sementara itu, Imanuel Kant menginginkan ilmu pengetahuan itu bersifat apriori (kebenaran yang didapat tidak mesti dialami) dan sintesis, bukan aposteriori serta universal. Sebagai contoh: ketika membuat pesawat, kita tidak harus merasakan jatuh dari langit terlebih dahulu. Kita hitung dulu rumusnya baik-baik, gravitasinya, tekanannya dan lain-lain. Hal inilah yang kemudian melahirkan teori-teori.

 

Ø  Pengaruh dari 3 aliran ini adalah ditemukannya banyak penemuan, seperti penemuan mesin cetak, mesin uap dan lain-lain. Penemuan-penemuan tersebut mendorong penemuan lainnya dan pada akhirnya dilakukan pengembangan dalam bidang teknik dan melahirkan industri. Selanjutnya dari industri ini mengakibatkan terjadinya revolusi, yaitu Revolusi Industri. Pada Revolusi Industri ini melahirkan banyak pengangguran karena tenaga kerja manusia digantikan oleh mesin.

Ø  Pengaruh Verlichting ini juga merambah ke dunia spiritual. Kritik pertama jatuh pada Gereja. Orang-orang yang berpikir rasional dan empiris menganggap Injil dan Gereja adalah institusi yang tidak dapat dipercaya. Mereka menganggap gereja melawan kemajuan (vooruitgang) dan ilmu pengetahuan.

Ø  Seiring berjalannya waktu, pemikiran rasional dan empiris melahirkan banyak aliran pemikiran, yaitu:

1.       Deïsme.

        Percaya akan keberadaan Tuhan tapi tidak percaya dengan institusi gereja.

2.       Atheïsme.

       Percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Hal yang di negasikan bukan Tuhan, melainkan umat beragama yang membuat manusia tidak berdaya. Sehingga kecenderungan bergantung pada Tuhan yang seolah-olah menjadi penghalang untuk maju. Pemikiran ini berasal dari filsuf Perancis, Voltaire.

3.       Agnotisme.

     Paham atau pandangan yang tidak memiliki landasan pengetahuan yang cukup terkait keberadaan Tuhan. Penganut paham ini merasa bahwa ada atau tidak ada Tuhan sama saja.

 

Ø  Kemunculan tiga aliran ini mengakibatkan gereja semakin kosong dan orang-orang suci tidak memiliki wibawa.

Ø  Kritik kedua jauh kepada negara. Orang-orang berpikir harus ada persamaan hak. Hak khusus atau privilege mulai dihapuskan. Tidak boleh ada kasta. Oleh karena itu harus dibuat UU. Selanjutnya muncul Trias politika oleh Mostesquieu. Disini masyarakat mendapat peran dalam pemerintahan. Orang-orang kaya menimbulkan jurang pemisah dengan orang miskin sehingga ekonomi mulai diatur ulang. Muncul liberalisme dalam politik yaitu demokrasi dan HAM.

 

Share this

0 Comment to "Perkembangan Kesusastraan Belanda (Part 30)"

Posting Komentar